Indonesia memang surganya keberagaman budaya. Selain kearifan lokal masyarakatnya yang bersahaja, masing-masing daerah selalu punya cara untuk memikat pengunjungnya dengan tradisi unik yang mempesona. Tak jarang, mereka malah bikin kalian heran sampai geleng-geleng kepala. Sebagai orang Indonesia yang cinta petualangan dan ingin menggali pengalaman, tradisi-tradisi unik berikut ini tentu gak boleh terlewatkan :

1. Tradisi Potong Jari, bukti kehilangan tingkat tinggi yang dilakukan oleh Suku Dani

tradisi potong jarivia www.sayangi.com

Kalian mungkin pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan karya sutradara John de Rantau. Kalau iya, pasti gak asing lagi dengan tradisi yang satu ini. Potong Jari adalah tradisi berkabung yang dimiliki suku Dani untuk mengungkapkan kesedihan karena ditinggalkan oleh anggota keluarga. Kenapa potong jari? Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Kehilangan salah satu ruasnya saja, tangan kita tidak lagi berfungsi optimal. Itulah nilai filosofi dari tradisi ini. Zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan, tapi kamu masih bisa menjumpai sesepuh suku Dani yang jemarinya sudah tidak utuh lagi.

2. Atraksi Debus Di Banten, melihat manusia-manusi super beraksi

debusvia kabartangsel.com

Kalian pasti gak asing lagi dengan Superman, pahlawan super yang punya kekuatan dahsyat dan kebal terhadap serangan senjata tajam maupun peluru. Di Indonesia, Superman itu, bukan sekadar fiksi. Gak percaya? Saksikan aja atraksi Debus yang ada di provinsi Banten. Mereka memperlihatkan kemampuan super mereka dengan atraksi-atraksi seperti menyayat atau mengoleskan api di kulit sendiri, berguling di atas serpihan beling, menginjak paku atau bara api menyala, bahkan sampai menyiram tubuh dengan air keras. Hebatnya, mereka sama sekali gak terluka atau merasakan sakit. Praktisi debus ini gak cuma terdiri dari orang-orang dewasa, ada remaja dan anak-anaknya juga, lho. Hiii, mereka memang gak terluka, tapi atraksinya bikin ngilu yang lihat.

3. TRADISI ADU BETIS MASYARAKAT BUGIS DI BONE UNTUK MENSYUKURI HASIL PANEN

adu betisvia www.kabarkami.com

Masyarakat Dusun Paroto, Desa Samaelo, Barebbo, Bone, Sulawesi Selatan, ini juga punya tradisi menarik untuk mengungkapkan rasa syukur setelah memanen padi. Gak kalah brutal dengan Tawur Nasi di Rembang, mereka saling mengadu kekuatan betis lewat permainan Malanca. Tradisi turun-temurun ini diikuti oleh sejumlah pemuda kampung dan disaksikan oleh ratusan warga lainnya. Setelah aba-aba, pesertanya akan saling adu kuat menendang betis lawan. Tak jarang, mereka akan meringis kesakitan, bahkan sampai keseleo karena kekuatan tendangan lawan. Tapi, gak ada yang mendendam, mereka tetap bersuka cita karena hasil panen yang melimpah.

4. Ritual Balimau Kasai ala masyarakat Riau untuk menyambut bulan Ramadhan

ritual balimauvia ikpmr-malang-anakriaupunya.blogspot.com

Sehari menjelang bulan puasa, masyarakat Kabupaten Kampar, Riau, mengadakan ritual besar-besaran yang diikuti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pemuka adat, pemuka agama, pejabat pemerintah, sampai maysarakat umum. Mereka menyucikan diri di sungai Kampar sebagai perwujudan rasa syukur memasuki bulan Ramadhan dalam ritual Balimau Kasai. Balimau Kasai adalah tradisi mandi beramai-ramai menggunakan limau atau campuran jeruk, dan kasai, wewangian yang digunakan untuk keramas. Masyarakat Kampar percaya, pengharum rambut ini dapat mengusir segala macam rasa dengki yang mendiami pikiran. Sebelum menceburkan diri ke sungai, ada acara santap bersama yang disebut Makan Majamba.

5. Tawur Nasi di Rembang, Jawa Tengah yang bikin orang-orang bergembira

tawur nasivia ichsansofan.blogspot.com

Mendengar kata ‘tawuran’, apa yang terbayang di benakmu? Mungkin dua kubu massa yang saling hantam dengan batu, kayu, bahkan senjata tajam. Nah, tawuran yang ini memang gak kalah brutal. Tapi, alih-alih menyerang dengan kebencian, mereka justru bergembira. Senjatanya juga gak berbahaya, karena mereka saling serang dengan nasi. Tradisi Tawur Nasi ini diadakan setiap tahun di Desa Pelemsari, Rembang, Jawa Tengah sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Seusai berdoa, pemuda-pemuda desa saling lempar sambil tertawa gembira. Konon, pernah suatu kali desa ini gak mengadakan tradisi Tawur Nasi, dan hasilnya mereka gagal panen. Nantinya, nasi-nasi yang tercecer ini akan dikumpulkan warga untuk pakan ternak. Mereka percaya, hasil dari ternak yang diberi makan nasi hasil “tawuran” akan melimpah seperti panen mereka.